«

»

Mei 23 2015

P3 Kampung Bersinar 2015 di Kel. Kidul Dalem #1

Penilaian Tahap 3 (P3) Lomba Kampung Bersinar 2015 telah sampai di Kelurahan Kidul Dalem. Rombongan Tim Penilai tiba di kantor kelurahan pada Kamis (21/05/2015) sekitar pk. 09.20 wib. Turun dari mobil kijang merah, mereka terdiri dari Bpk. Syamsul Arief (Dinas Pertanian), Pak Zainul, Ibu Indri dan Mas Wahyu (DKP), Ibu Djuju (PKK Pemkot), Pak Marga (Malang Pos) dan seorang driver. Sebagaimana sasaran penilaian tahap-tahap sebelumnya (P1 dan P2) di wilayah Kidul Dalem, kali ini mereka juga akan melakukan penilaian terakhir di 4 wilayah RW yang sama, yaitu RW. 06, RW. 05, RW. 01, dan RW. 03. Pewarta media ini yang mengiringi liku-liku proses penilaian lapangan tersebut akan menurunkan laporannya secara berseri. Berikut paparannya secara umum di masing-masing wilayah RW.

selamat datang

Kampung Bersinar di RW. 06

Di wilayah yang terletak di bantaran sungai Brantas ini rombongan Tim Penilai disambut sapaan hangat “Selamat Datang” dari spanduk besar yang tergantung di ujung jalan Embong Brantas. Tak sampai di situ, nyayian selamat datang dari ibu-ibu Kader Lingkungan berkumandang mengiringi langkah para juri itu saat memasuki Gang 2 yang menjadi akses utama wilayah itu. Berseragam batik merah yang dipadu selempang dari limbah karung bertuliskan Kader Lingkungan RW. 06, para ibu itu dengan ramah memandu rombongan untuk melihat karya kerajinan daur ulang. Berbagai produk dari limbah kering karya ibu-ibu PKK telah tertata rapi di beberapa meja. Ada tas dari plastik bekas kemasan, kap lampu dari gelas mineral, aneka rajutan bunga berbahan perca, serta beberapa kerajinan cantik dan berdaya guna lainnya.

Sekitar 50 m berikutnya, langkah beberapa juri berhenti di teras sebuah rumah yang dipenuhi tumbuhan hidroponik yang tersusun rapi. Sayang, si empunya tanaman sedang tidak di tempat, sehingga juri dari Dinas Pertanian yang tertarik dengan budidaya tanaman di lahan minim itu tidak mendapatkan penjelasan lebih jauh.

Secara umum, kampung dengan topografi kemiringan sekitar 300 tersebut memang tampak lebih hijau. Di depan rumah-rumah warga, di tepi jalan maupun gang terlihat banyak tumbuhan yang sengaja ditanam warga. Matahari yang mulai terangkat, tak terasa terik. Suasana agak segar oleh hijaunya tetumbuhan di sudut-sudut wilayah itu. Selain ditanam secara konvensional, ada pula yang ditanam secara horizontal dan bersusun, atau ditempelkan di dinding dalam pot-pot bekas botol minuman, bahkan yang menjalar atau menggantung dibuatkan kerangka khusus hingga terkesan rapi.

Beberapa bagian jalan juga terasa teduh karena di atasnya terdapat tetumbuhan menjalar yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah rangka yang dibuat semacam gapura.  Suprijadi (62 th) salah satu tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua RW. di wilayah itu mengungkapkan suka citanya: “Kita bersyukur masyarakat sekarang sudah tertarik dengan penghijauan karena mereka insyaalloh sudah merasakan betapa pentingnya tanam-menanam. Semoga merasa membudaya dalam diri masing-masing, gemar menanam tidak hanya sedang menghadapi lomba ini saja ”, harapnya.

Sementara Pak Syamsul Arif, salah seorang juri ketika dikorek keterangannya terkait penghijauan di kampung yang hanya bisa dilalui motor ini, beliau berucap singkat: “nanti… nanti”. “Tapi secara umum kayaknya warga di wilayah ini cukup antusias ya”, sambungnya sambil berjalan. Sesekali beliau melihat tulisan dan slogan-slogan kebersihan yang tertulis di dinding. Sementara itu Juri yang lain terlihat berinteraksi dengan warga di sekitar kamar mandi umum yang terletak di sebelah Langgar Sunan Kalijogo. Di wilayah yang tidak begitu luas dengan sebuah jalan utama yang cukup curam membujur dari utara ke selatan sepanjang sekitar 600 m ini, tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi juri untuk melakukan penilaian.  

Di akhir kunjungannya di wilayah RW. 06, Tim Penilai menyampaikan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Kota Malang kepada RW. yang diketuai oleh Drs. Wahyu Budiono, A.Md. ini, atas partisipasinya sebagai Peserta Lomba Kampung Bersinar 2015. Sertifikat bertanda tangan Walikota itu, oleh perwakilan DKP diserahkan kepada Lurah Kidul Dalem, Bpk. Dedy Tri Wahyudi S.P, S.STP. untuk selanjutnya diterimakan secara langsung kepada Ketua PKK RW. 06, Ibu Suci Hariati.

sobo kampung

 

Kampung Bersinar di RW. 05

kebun togaDari RW. 06 rombongan Tim Penilai yang diiringi Lurah Kidul Dalem dan beberapa Kader Lingkungan bergeser ke wilayah Rukun Warga di sebelahnya, yaitu RW. 05. Memasuki Gang 4 Jl. Embong Brantas yang menjadi akses wilayah yang diketuai Bapak Towar ini, rombongan disambut musik rebana dari belasan anak-anak berbusana putih-putih. Sambil duduk di teras sebuah rumah, anak-anak usia sekolah dasar itu bersholawat dan menyanyikan lagu-lagu selamat datang.

Di wilayah yang juga berkontur curam dengan kemiringan hingga 350 ini, para juri kemudian berpencar. Sebagian terhenti di persimpangan gang dimana terdapat sebuah taman toga. Selain tanaman untuk pengobatan, di tempat itu juga dapat ditemukan beberapa tumbuhan buah-buahan. Di masing-masing tanaman tergantung sebuah catatan mengenai nama dan bahasa latin tanaman tersebut termasuk fungsinya bagi kesehatan. Di balik rimbunnya kebun mini itu juga terdapat dua buah drum komposer berwarna biru.

Di seberang kebun toga itu, di atas sebuah meja dipajang beberapa kerajinan daur ulang karya warga. Ada pernak-pernik bros dan hiasan kulkas, warna-warni bahan dekorasi dari klobot jagung, ada pula kerajinan kupu-kupu dan capung dari bulu ayam. Di tempat ini juri dan beberapa kader lingkungan juga berkesempatan mencicipi jus strawbery olahan khas warga dari hasil budidaya sendiri.

Di tempat lain, rombongan juri lainnya terlihat berhenti di depan rumah warga yang bernama Ny. Helmi. Di petak ukuran 1,2×2 m ini terdapat budidaya cacing lumbricus. Cacing-cacing yang harga jualnya sekitar 30 ribu perkilo itu ditempatkan dalam beberapa tumpukan kotak buah berwarna putih. Sayang, ketidaksesuaian tempat membuat perkembangan hewan invertebrata itu tak sesuai harapan. “Harusnya di tempat tertutup dan minim cahaya”, ujar ibu parobaya yang mengaku baru memanem sekali sebanyak 5 kg itu.

Perjalanan di wilayah padat penduduk ini diteruskan dengan melewati “lorong-lorong tikus” dan gang sempit yang naik turun dan berliku. Salah satu yang menarik perhatian adalah di depan masing-masing rumah warga tergantung dua tas belanja terbuat dari sak karung bekas. Di masing-masing tas unik itu terdapat tulisan “Sampah Kering”komposting dan “Sampah Basah”. Rupanya tas gantung putih itu adalah tempat sampah. ”Kalo tong sampah, biasanya warga masih ada yang malas untuk membuka”, ujar salah satu Kader Lingkungan memberikan alasan. Sayangnya, unit BSM yang dulu sangat berkontribusi dalam meningkatkan penilaian, saat ini sudah tidak aktif lagi. “Tempatnya sudah disewa mebel dan pengurusnya ada yang bekerja di luar kota”, sambung ibu berjilbab tersebut.  

Setelah berkeliling melihat ijo royo-royonya sudut-sudut RW. 05, persinggahan terakhir “jalan-jalan kampung” di RW. paling timur Kel. Kidul Dalem ini adalah rumah Om Tessy. Rumah agak lapang milik owner Depot Rawon Tessy ini menjadi ajang sharing antara warga, kader lingkungan, Lurah dan Tim Penilai Lomba Kampung Bersinar. “Sebenarnya sudah menjadi pemikiran kami, di rapat-rapat tim juri hal ini sudah kita bahas. Memang seharusnya ada pembedaan klasifikasi antara wilayah kampung dengan kawasan perumahan yang tidak bisa disamaratakan”, ujar Pak Syamsul menjawab masukan yang disampaikan oleh Lurah Kidul Dalem terkait adanya perbedaan topografi, fasilitas wilayah maupun tingkat SDM antara kampung “biasa” dengan wilayah elite yang dalam Lomba Kampung Bersinar kali ini masih dianggap setara.

sertifikatDalam kesempatan itu, Pak Towar selaku Ketua RW. 05 juga menerima sertifikat penghargaan dari Pemkot Malang atas partisipasi RW. di bantaran DAS Brantas itu dalam lomba tahunan ini. Di rumah berpilar itu, lelah dan penatnya tracking naik-turun kampung, melintasi gang-gang sempit di dua RW. terpadat tersebut, menjadi sirna oleh aroma khas Rawon Tessy yang sudah kesohor itu. Hiruk pikuk gurau dan canda mewarnai makan siang dan kebersamaan kami. Warga, Kader Lingkungan, Pengurus Kampung, Lurah dan Tim Penilai begitu cair dan menyatu, bersama-sama mewujudkan kampung-kampung yang asri bersinar. Menuju Kota Malang Bermartabat.

kampung bersinar rw 5

—-o0o—-

Bagaimana serunya “perjalanan rame-rame” kami di dua RW. berikutnya, yang ternyata juga luar bisa!. Tahukah anda bahwa warna hitam ternyata digemari nyamuk dan itu menginspirasi warga di sana untuk berinovasi? Atau bagaimana uniknya limbah kertas dan plastik dijadikan busana anak-anak?, ikuti laporan perjalanan P3 Kampung Bersinar kami di seri tulisan berikutnya. (mazipiend|kelkidal)