Site icon https://kelkiduldalem.malangkota.go.id/

P3 Kampung Bersinar 2015 di Kel. Kidul Dalem #2

BSMPenilaian tahap ke 3 (P3) dalam kontestasi Kampung Bersinar 2015, adalah penilaian terakhir. Di tahap inilah bobot penilaian menjadi menentukan karena prosentasenya 40%. Bandingkan dengan P1 yang hanya 25% atau P2 yang 35%. Namun apapun hasilnya, proses penilaian tahap ke 3 telah dilaksanakan dan diikuti segenap warga Kidul Dalem dengan gegap gembita pada Kamis (21/05/2015). Mereka telah berupaya secara optimal di tengah segala keterbatasan yang ada. Inilah lanjutan laporan lika-liku perjalanan mengikuti penilaian tersebut di RW. 01 dan RW. 03.

Kampung Bersinar di RW. 01

Adzan Dhuhur berkumandang saat rombongan Tim Penilai memasuki wilayah RW. 01 yang berlokasi di belakang pertokoan-pertokoan besar ini. Mereka masuk melalui Gang Kabupaten, sebuah gang di sebelah utara Depot Rawon Nguling. Sebuah banner “Selamat Datang” berkibar-kibar di atas jalan selebar 4 meter itu. Di ujung gang di seberang sebuah butik, rombongan disambut beberapa orang Kader Lingkungan plus senampan kue basah berbahan labu dan jus sirsak hasil budidaya wilayah ini. Di tengah klimaksnya pancaran mentari, tempat itu masih terasa sejuk karena terlindungi rerimbunan tumbuhan labu yang menjalar dan sengaja dirangkai sebagai peneduh jalan. Di tempat ini sejenak rombongan beristirahat.  

Selanjutnya, melalui gang kecil yang bersimpangan dengan tempat tersebut, rombongan mulai menyusuri wilayah RW. yang saat ini dikomandani oleh Bapak H. Gatot A. Husain itu. Beberapa Kader Lingkungan dengan ramah memandu kami. Suasana wilayah RW yang satu ini memang agak berbeda. Meski termasuk pemukiman yang padat, namun rumah- rumah dan jalan kampung terlihat lebih rapi dan teratur. Jalan berpaving cukup bersih dengan kiri-kanannya ditanami tumbuh-tumbuhan nan asri. Nyaris tidak ditemukan sampah tercecer. Penghijauan juga terlihat lebih masif. Bukan saja di halaman ataupun teras rumah-rumah warga, fasilitas umum semacam Balai RW., tempat ibadah, maupun sekolah (PAUD/TK.), juga terlihat dihiasi rerimbunan tumbuhan hijau yang tertata. Warga di sini seolah tak ingin membiarkan sejengkal tanahpun yang kosong tanpa tanaman. “Kerapatan penghijauan di wilayah ini memang tinggi. Nilainya di tiap tahap terus meningkat”, ucap Pak Syamsul Arief spontan. Juri dari unsur Dinas Pertanian itu terlihat asyik menyusuri wilayah yang asri ini.

Di sebuah pagar rumah warga, rombongan juri terhenti. Mereka tertarik dengan sebuah botol kemasan air mineral bertuliskan “Penangkap Nyamuk” yang tergantung di pagar besi setinggi satu meter. Botol kemasan 1500 ml yang bagian dalamnya dicat warna hitam tersebut terpotong horisontal menjadi 2 bagian. Ujung bagian atasnya (mulut botol) dimasukkan terbalik ke dalam bagian bawah potongan lainnya. Di dalamnya terdapat campuran air gula dan sedikit ragi yang berfungsi menghasilkan karbon dioksida (CO2). “Nyamuk sangat menyukai warna hitam (tempat-tempat gelap,red.) dan karbon dioksida”, ujar seorang kader pemandu menjelaskan salahsatu inovasi di wilayahnya tersebut. Dan, tidak cukup hanya di situ, botol-botol penangkap nyamuk yang murah dan tepatguna tersebut memang tersebar di berbagai sudut kampung. Ada yang ditempelkan di tembok atau tiang listrik maupun tergantung pagar rumah.

Di sini juga menyediakan Kotak P3K… gratis!”, ujar seorang ibu anggota kader lain sambil menunjuk sebuah kotak kaca berwarna putih berisi obat-obatan darurat yang tergantung di tembok samping sebuah rumah. Terlihat di dalamnya: sebotol betadine, segulung perban, dan beberapa kemasan obat, baik tablet maupun serbuk. Menurut salah seorang kader wanita tersebut, setidaknya di masing-masing RT. kotak P3K hasil swadaya warga itu telah terpasang di tempat-tempat terbuka. Siapapun bisa memanfaatkan obat itu.”Ya ndak(tidak, red) apa-apa… berarti orangnya lagi butuh pak!”, ujar seorang kader berseloroh ketika ditanya kemungkinan hilangnya isi kotak-kotak itu akibat tangan-tangan usil ataupun “argobel”. Jika di tiap RT. terpasang 1 kotak P3K dan masing-masing isi kotak anggap saja senilai 100 ribu, maka betapa besar andil warga wilayah itu untuk pertolongan darurat kesehatan mereka.

Hampir dua jam rombongan berada di wilayah ini, dan akan terlalu panjang untuk dikisahkan. Selain wilayahnya yang memang lebih luas dari dua RW sebelumnya, lebih dari itu “jelajah kampung bersinar” di wilayah ini memang sungguh mengasyikkan. Secara singkat, banyak hal menarik yang dapat dicatat dari perjalanan di wilayah RW. di belakang Pendopo Kabupaten Malang ini, diantaranya adalah:

  1. Administrasi pengelolaan BSM yang rapi dan transparan
  2. Inovasi pemanfaatan limbah botol plastik bekas sebagai alat Penangkap Nyamuk yang murah, sederhana dan tepat guna
  3. Inovasi swadaya penyediaan Kotak P3K di tempat-tempat terbuka sebagai media pertolongan pertama
  4. Adanya sentra pelatihan dan pembuatan ketrampilan limbah daur ulang melalui Rumah Daur Ulang
  5. Inovasi penyediaan kaleng puntung rokok yang ditempel di depan rumah-rumah warga, selain penyediaan tas gantung sampah basah dan sampah kering di masing-masing rumah warga
  6. Penanaman secara masif aneka tumbuhan di berbagai lokasi, bahkan tumbuhan-tumbuhan yang berjenis langka

Dari catatan-catatan positif tersebut, hal paling subtansial yang tercermin kemudian adalah: kepedulian, kebersamaan, dan kemandirian kolektif warga wilayah tersebut dalam mengatasi berbagai permasalahan bersama mereka. Inilah sesungguhnya yang harus menginspirasi kita semua.   

Kampung Bersinar di RW. 03

Semangat Tim Penilai masih belum kendur untuk melakukan penilaian di “etape” terakhir yakni di wilayah RW. 03. Semangat yang masih berkobar itu seakan berlomba dengan mentari yang semakin terik. Jalan Aries Munandar yang padat seolah menambah peluh kami semakin tebal. Di antara mobil yang merayap, jalan raya yang memisahkan wilayah RW. 01 dengan RW. 03 itu harus kami seberangi. Beberapa anggota rombongan wanita terlihat terengah-engah, stamina di usia yang di atas kepala empat atau lima tak bisa dikelabuhi lagi.

Sampai di wilayah RW. 03, kembali kami harus melalui lorong-lorong sempit dan berliku. Bahkan lebih rumit dari lika-liku arteri di RW. 05 atau RW. 06 pagi tadi. Andai tidak ada pemandu yang “berkoar-koar” melalui megaphone, bisa saja ada anggota rombongan yang tersesat masuk dapur belakang rumah warga atau bahkan kembali ke titik semula. Bagi warga luar memasuki wilayah di selatan bantaran Sungai Brantas ini, mungkin tak ubahnya memasuki sebuah labirin. Tapi, inilah keunikan topografi wilayah ini.

So, jangan berharap akan mendapatkan pemandangan rumah-rumah yang berjajar rapi atau jalanan lapang dengan kiri-kanannya berbunga sebagaimana di RW. 01 tadi. Pemukiman di wilayah ini selain padat juga rapat (lho!). Intinya di wilayah ini tak ada lagi lahan leluasa untuk bertanam.

Namun demi perhelatan Kampung Bersinar, warga tak patah arang. Untuk menambah kesegaran lingkungan pemukiman tengah kota ini, mereka menanam bunga dan penghijauan secara vertikal. Bahkan dinding-dinding bangunan mereka jadikan media tempel bagi tanam-tanaman yang mereka tempatkan dalam pot-pot daur ulang. Di antara padatnya pemukiman, di beberapa titik masih dapat ditemukan tempat-tempat nan rindang. Melalui rekayasa tanaman menjalar yang dirangkai dalam kerangka-kerangka besi atau bambu belah, dan dengan tambahan kursi panjang, jadilah tempat sebuah tempat nongkrong yang teduh dan nyaman.  

Dalam hal pengolahan sampah, selain melalui sentra BSM, di beberapa titik juga terdapat mini komposter. Melalui teknologi sederhana dengan memanfaatkan limbah botol-botol kemasan minuman, di tengah terbatasnya lahan mini komposter ini menjadi salahsatu alternatif pengolahan sampah organik yang tepatguna. Meski kapasitasnya tidak terlalu besar setidaknya telah mampu mensuplai kebutuhan pupuk cair secara murah, dan tentu juga berkontribusi dalam mengurangi debit sampah di TPA.

Sebagaimana di beberapa RW. sebelumnya, di wilayah ini juga diterapkan pemisahan sampah kering dan sampah basah melalui penyediaan 2 tas gantung berbahan sak bekas kantong beras. Sambah basah sebagian di komposting, sementara sampah kering dipilah lagi selain untuk disetor ke BSM juga dimanfaatkan menjadi beberapa kerajinan daur ulang. Sisa dari semua itu baru dikirim ke TPS.

Terlepas dari itu semua, aspek yang menarik dari wilayah ini adalah kekompakan warganya. Ditengah kondisi geografis dan demografis yang tak menguntungkan untuk lomba-lomba lingkungan semacam ini, antusiasme dan soliditas mereka justru sangat kental. Hal itu makin kentara saat acara seremonial yang ditempatkan di Balai RW. Di tempat yang sempit itu, mereka berupaya mengemas acara secara unik. Setelah sebelumnya Tim Juri dihadiahi Caping (topi lebar khas petani) selama touring kampung, maka di tempat ini mereka menempatkan tim penyambutan dari ibu-ibu yang berbusana tradisional. Termasuk, parade busana pesta berbahan daur ulang dari koran dan plastik kemasan yang diperagakan anak-anak. Penghormatan tak cukup sampai disitu, setelah makan siang yang penuh keakraban masing-masing tamu mendapatkan cinderamata berupa kerajinan daur ulang yang dikemas dalam kantong ramah lingkungan.

Ditengah keterbatasan lahan dan sempitnya lokasi kegiatan, penyambutan antusias semacam itu selain cukup unik tantu menarik empati dan sangat mengesankan. Bagi warga wilayah ini; Kemenangan bukanlah segalanya. Perubahan kultur, kepedulian dan kebersamaan, itulah yang paling utama. Filosofi sederhana yang masih relevan dalam segala keadaan!. (mazipiend|kelkidal)

—-o0o—-

Exit mobile version