Kontemplasi Sang Anak di Hari Ibu

oleh: Akhmad Soleh Arifin

ucapan selamat hari ibu


IBU, susunan sederhana tiga huruf ini selalu saja mengarahkan kita pada sosoknya yang mengagumkan. Dari rahimnya kita dilahirkan, dari tangan lembutnya kita dibesarkan dan dari doa-doanya kita dihantarkan pada kehidupan kita yang luar biasa saat ini.

Kesederhanaannya telah mengkayakan bathin kita, kesabarannya mengkuatkan jiwa kita dan ketulusannya justru melemahkan kita dalam pangkuannya. Layaklah jika tanggal 22 Desember dikukuhkan sebagai hari khusus untuk mengenang kegigihannya, sebagai Hari Ibu.

Andai tak ada hari ibu, mungkin tak ada lagi momentum yang akan memalingkan perhatian kita pada sosoknya, pada ketabahannya mengasuh kita. Andai 22 Desember adalah hari biasa saja, di 365 hari dalam setahun kehidupan kita mungkin tak akan terbersit bagi kita untuk berkontemplasi, merenungkan sosok luar biasa yang mengandung kita. Bisa jadi kemuliannya kemudian terbenam diantara deru roda kesibukan kita. Bahkan mungkin jadi sosok yang terlupakan ditengah gemuruh hiruk pikuk kehidupan ini.

Kesibukan kita mencari nafkah (atau kesuksesan?) nyaris menimbun cucuran peluhnya. Waktu-waktu bahagia kita bersama keluarga tercinta hampir saja menenggelamkan jasa-jasanya menghadirkan kehidupan nyata bagi kita. Semuanya seakan telah merengut perhatian kita dari hari-hari tuanya.

Untungnya masih ada Hari Ibu!. Meski sayup, setidaknya masih ada suara yang menghentak-hentak ingatan kita. Sejenak mencuri perhatian kita akan sosoknya, pada kehangatannya. Memalingkan sedikit waktu kita pada masa-masa panjangnya bergelut sengsara “membesarkan” kita, dan menjadikan kita “manusia sesungguhnya”.

Doa-doanya sederhana, sesederhana pengharapannya atas balas budi kita kepadanya. Pintanya pada Tuhan tulus tak berlebih. Hanya ingin buah hatinya “Jadi Orang”!. Dan jadilah kita saat ini. Sosok yang setidaknya punya kehidupan.

Sosok yang kadang terlalu mengelu-elukan kehidupannya. Berbangga dengan segala kesuksesannya. Sosok yang kadang bahkan tak tahu lagi untuk apa kesuksesan yang teraih. Itulah cermin sebagian dari kita.

Sementara di ujung sana, sang ibu tetap sederhana dengan doa-doa malamnya. Istiqomah dengan linangan air mata pengharapan pada Tuhan bagi kebahagiaan anak cucunya. Tak lebih!.

Ia tak mengingat lagi cucuran keringat panjangnya yang bermasa-masa. Tak berharap pembalasan atas beban deritanya mencari penghidupan dan menyuapi kita. Bahkan tak hendak mengenang masa-masa susah mengendalikan kenakalan-kenakalan kita.

Baginya susah sengsara membesarkan kita masa itu, hanyalah iktiarnya menjalani kehidupan, juga taqdir ke-ibuannya. Tak berharap apapun selain kebagiaan hidup bagi anak-anaknya kelak.   

Kemudian, saat kita ingin membalas abdi dengan “membahagiakan” hari-hari tuanya. Justru ia menemukan kesibukan baru dengan merawat cucu-cucunya, anak-anak kita!. Lengkaplah sudah, berlepotan air pipis dua generasi akan ia lalui dengan segala riang susahnya. Bahkan kali ini dengan kasih yang berlebih. Dan, pasti akan menguji kesabaran dan kedewasaan kita.

Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa. Berbahagialah seorang anak yang punya kesempatan untuk merawat sang bunda, bahkan kedua orang tuanya. Dan ia benar-benar memanfaatkan kesempatan itu dengan ikhlas.

Meski tak akan pernah mampu terbayar tuntas pengorbanan panjang keduanya. Bersama doa-doa tulus kita, setidaknya itulah ikhtiar layak seorang anak kepada bundanya.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (ayah ibumu) dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana keduanya telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al Israa’;24)

ilustrasi : blogger-indonessia.blogspot.com


please, share its with :

facebook twitter