Refleksi 5 Th CFD: Kota Malang Milik Kita!

PKL CFD Malang

Pedagang di CFD, sebagian besar menggelar lapak di atas taman rumput trotoar Jl. Idjen Boulevard


Malang Car Free Day, agak disayangkan memang jika ada warga Ngalam yang belum pernah menikmati keceriaan event ini. Padahal, event yang digelar setiap Minggu pagi di sepanjang Jl. Idjen Boulevard ini telah menjadi destinasi sosial warga. Baik untuk berolahraga, refreshing, maupun kegiatan rekreatif keluarga.

Setelah lebih dari 5 tahun hadir dan mewarnai gairah kemajuan Kota Malang, kegiatan ini seolah menjadi refleksi dan memperlihatkan sisi-sisi lain geliat kota ini. Tidak sekedar menjadi ruang publik yang ramah untuk para pecinta olah raga (senam, jogging, bersepeda, skating, dan sebagainya) atau wahana rekreatif rakyat yang murah, CFD juga bertransformasi menjadi ladang yang subur bagi berbagai jenis usaha.

CFD Malang dengan segala nuansa jalan Idjen-nya tidak hanya menawarkan udara pagi yang segar bagi para pecinta senam, atau mulusnya jalanan untuk jogging track dan bersepeda, tapi ia juga telah menjelma menjadi habitat interaksi sosial berbagai komunitas dan strata sosial warga kota. Ia turut berperan dalam propaganda kohesi elemen-elemen insani kota. Setidaknya beberapa komunitas hobi dan aktivitas seolah menemukan tempat yang pas untuk berekspresi dan mengeksplorasi jati diri.

Selanjutnya bisa ditebak, ada gula ada semut; ada kerumunan massa ada potensi ekonomi. Dan, peluang itu tentu saja langsung disambar dan tak disia-siakan oleh sebagian orang, meski harus berseberangan dengan tujuan CFD ini diadakan. Keterbukaan yang diulurkan tidak hanya ditanggapi secara fungsional oleh warga. Wahana yang semula diorientasikan untuk olahraga dan kesehatan sosial masyarakat, kemudian meluas fungsi menjadi pasar potensial dan ajang perputaran uang. 

Tidak hanya pedagang kelas rakyat jelata (PKL) yang berjajar menawarkan dagangannya, bahkan usaha kelas menengah hingga skala atas turut serta mendayung manfaat massa CFD. Tak cuma pedagang pakaian atau jajanan ringan, dealer motor, bisnis hotel maupun perusahaan properti juga turut agresive menawarkan produknya di ajang ini. Seolah menguatkan sinyalemen bahwa potensi perputaran duit dari ajang ini memang luar biasa.

Sangat memprihatinkan adalah, secara kasat mata sebagian besar dari mereka menggelar lapaknya di kawasan hijau rumput trotoar sepanjang jalan legendaris itu, dan tanpa beban. Tak hanya meninggalkan sampah dan residu dagangan lainnya, tapi rusaknya rerumputan merefleksikan betapa rendahnya kesadaran untuk turut menjaga citra keindahan kota. Duh…

Tak pelak, CFD-pun kemudian mulai mengalami malfungsi. Fungsi wahana olahraga dan interaksi sosial warga, dipaksa harus berbagi dengan fungsi ekonomi yang semakin minggu kian besar dan nyaris tak terkendali. Bagi sebagian pihak berkumpulnya massa di CFD memang benar-benar menjadi lahan seksi yang menggiurkan bisnis mereka. Tapi bagi sebagian yang lain, agak risih karena fungsi utama CFD seolah tercederai.

Meski tak sampai menggeser fungsi utama CFD, toh keluh kesah datang dari pengguna sejati CFD. Komplain dari Paguyuban Pedagang Pasar Wisata Tugu juga mulai mengemuka. Di Pasar Wisata Tugu yang tak jauh dari arena CFD (depan stadion Gajayana), toh juga menyediakan berbagai keperluan shoping rekreatif keluarga.

Bahkan kedua destinasi tersebut harusnya dapat bersinergi. Menjadi satu kekuatan paket wisata olahraga dan rekreatif yang luar biasa. Bisa saling mengisi dan melengkapi, bukan justru menjadi kompetitor yang tak sehat.

Untungnya Pemkot Malang dan Pengelola CFD mulai merespon keluhan-keluhan tersebut. CFD harus dikembalikan kepada kodratnya, sebagai ajang olahraga masyarakat dan interaksi sosial warga. Inilah nafas sesungguhnya Car Free Day; memperkuat daya kohesi sosial warga. Di tengah gempuran gedget dan teknologi yang cenderung asosial, ajang CFD ini dipandang semakin relevan.

Rencanapun telah disusun dan siap dieksekusi Minggu ini (17/01/2015). Bukan hanya pedagang dan orientasi kapital yang akan dilarang, lebih dari itu untuk menjawab jumlah pengunjung yang terus meningkat arena CFD-pun akan diperpanjang hingga ujung Jl. Simpang Balapan. Tak ketinggalan, taman-taman di kawasan Idjen yang telah disulap menjadi ruang publik nan bersahabat dan nyaman, siap menyambut mereka.

So, bagaimana wajah CFD Malang kita yang sesungguhnya?. Berkurangkah kesemarakannya tanpa pedagang? Atau justru semakin nyaman?. Kita lihat saja besok Minggu. Yang pasti adalah, kewajiban semua pengunjung untuk turut bertanggungjawab menjaga kenyamanan ajang CFD ini. Salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan, ataupun mencederai setangkaipun tumbuhan. Karena, Kota Malang adalah milik kita.(mazipiend|kelkidal)


please, share its by:

facebook twitter