Menelisik “Suspeck” Flu Burung di Kidul Dalem

Suspec Flu Burung

Ditemani putra pemilik rumah, Petugas melakukan observasi kandang unggas di RW. 02: menelisik kemungkinan suspec flu burung.


Menindaklanjuti rekomendasi Puskesmas atas diagnosis terhadap salahsatu pasien yang merupakan warga RW. 02 dan diindikasikan terserang virus flu burung, Selasa siang (05/04/16) kemarin  Petugas Lapangan Bagian Peternakan Dinas Pertanian Kota Malang melakukan visitasi dan pemeriksaan di salah satu rumah pemilik unggas di wilayah RW. 02 tersebut.

Adalah Pak Wiji, pemilik puluhan merpati yang sejak dua hari lalu tiba-tiba beberapa ekor peliharaannya itu berjatuhan dan mati. Setidaknya 4 ekor unggas miliknya itu telah meregang nyawa tanpa sebab jelas. Sementara, tak berselang lama tetangganya juga sakit dan kemudian berobat ke Puskesmas Arjuno.

Menurut penuturan Lurah Kidul Dalem, Dokter Puskesmas yang memeriksa warga RW. 02 itu mencurigai sang pasien terindikasi virus flu burung. Sontak keluarga pasien kalang kabut dan dokter menyarankan agar yang bersangkutan melapor ke RT./RW. dan ke Kelurahan, agar pihak-pihak tersebut menindaklanjuti sebagaimana mestinya.

“Saat kita telpon Kapala Dinas Pertanian, belum sempat ngomong panjang lebar beliau sudah menyampaikan bahwa petugasnya sedang melunjur ke Kidul Dalem”, cerita Pak Dedy sambil tersenyum. Tak berapa lama Petugas lapangan benama David itupun tiba di kantor kelurahan, lengkap dengan “peralatan tempurnya”. Sepatu boot putih, tas punggung hitam dan menenteng tanki semprot plus 4 kemasan disinvektan di kedua tangannya. Lelaki berkacamata itu pun meluncur ke rumah Pak Wiji bersama Lurah Kidul Dalem dan Ketua RW. 02, Achmad Lestari.

Tak sampai 5 menit untuk mencapai rumah bertingkat Pak Wiji. Pendek kata menurut Kakek gempal tersebut, pagi itu satu lagi merpati peliharaannya mati. Bangkai dalam kantong kresek hitam itupun ia serahkaan ke Mas David. Sang petugas dengan cekatan melaksanakan SOP-nya. Melakukan scaning fisik ke seluruh bodi hewan malang itu. Mengambil tolkitbox dari ransel hitamnya. Dan laiknya petugas visum, ia masukkan ujung cuttonbad ke dalam tenggorokan dan dubur bangkai burung itu. Sejurus kemudian lelaki muda itu menempelkan hasil korekannya ke tester plastik berindikator semacam lakmus.

IMG20160405112055Negatif pak!”, serunya mantab sambil memperlihatkan warna indikator testernya ke Pak Dedy. “Jika memang positif (flu burung,red), garis ini sejajar dengan huruf T-nya”, terangnya seraya menunjuk detail perubahan warna kertas lakmus di tester tersebut. Pak Wiji yang tak jauh dari Lurah Kidul Dalem itu langsung terlihat sumriah, maklum lelaki 60-an tahun itu memang yang paling terlihat risau.

Panjang lebar Mas David kemudian menjelaskan langkah-langkah antisipatif yang bisa dilakukan untuk menekan resiko penyakit unggas. “Sekarang sudah sulit mengenali suspec flu burung secara fisik. Kalau dulu bisa dengan melihat perubahan warna cengger pada unggas atau perubahan fisik lainnya. Satu-satunya cara ya melalui rapid test semacam ini”, terang lelaki berdomisili di Blimbing itu. “Merpati bapak banyak yang mati mungkin karena pengaruh perubahan musim, apalagi menurut jenengan tadi gak mau masuk kandang karena gangguan hewan liar nggih”, sambungnya kalem. Pak Wiji tersenyum, sambil menerima sebotol disinvektan pemberian Distan..

Dan kamipun lega, meski tetap harus waspada. Karena virus flu burung serasa masih mengintai kami, untuk sewaktu-waktu masuk melalui peternak-petenak unggas yang bertebaran di wilayah ini. (mazipiend|kelkidal).