Dilema Posyandu Balita Tanpa Dana Hibah

PIN 2016 di Kel Kidul Dalem

Peran nyata Posyandu tampak pada kesuksesan program PIN pada Mei lalu. Tanpa bantuan Dana Hibah kini mereka terseok-seok menjalankan kegiatannya.


Kendala paling dominan dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu Balita di Kelurahan Kidul Dalem saat ini, ternyata berkutat pada masalah biaya operasional. Fakta itulah yang mengemuka dalam polling sederhana yang dilakukan oleh Esti Erdiana, Bidan Puskesmas Arjuno kepada para Kader Posyandu Balita yang menjadi peserta kegiatan Pembinaan Peningkatan Lembaga Posyandu Balita Tahun 2016 di Aula Kel. Kidul Dalem pada Rabu (11/05/16). Dari lembar pendapat yang dibagikan kepada sekitar 60 peserta sesaat sebelum berlangsungnya kegiatan, hanya 2 responden atau 0,03 saja yang menyatakan bahwa kegiatan Posyandu Balita yang mereka laksanakan tanpa kendala. Selebihnya mengungkapkan berbagai kendalanya, dan yang paling dominan memang terkait masalah pembiayaan.

Fakta tersebut dapat dimaklumi, karena sejak 2015 lalu sasaran penerima dana hibah memang lebih selektif. Regulasi mensyaratkan hanya lembaga berbadan hukum dan terdaftar di Kemenkumham saja yang dapat menjadi sasaran penerima dana dari APBD tersebut. Dampaknya, lembaga sosial dan kemasyarakatan tak berbadan hukum yang biasanya menerima dana sosial itu, kini harus memutar otak untuk membiayai kegiatannya. Termasuk yang dialami oleh para penggiat Posyandu Balita di Kel. Kidul Dalem ini.

Lurah Kidul Dalem, Dedy Tri Wahyudi S.P., S.STP bukannya tak menyadari hal tersebut. Dalam sambutannya pada kegiatan yang berlangsung sejak pkl. 09. 00 wib itu, Lurah yang bertugas sejak 2011 ini mewacanakan alternatif sumber pembiayaan lain. “Di wilayah jenengan kan ada BSM nggih. Cuma selama ini mungkin masih bersifat personal. Padahal operasional Posyandu bisa dibiayai dari sampah”, ujar pak Lurah mencoba melemparkan wacana kepada peserta yang semuanya ibu-ibu itu.

Bidan Esti Erdiana, yang juga menjadi salah satu pemateri kegiatan pembinaan Posyandu itu juga menyampaikan wacana solutif lainnya. Melaui media ini bidan kelahiran Nganjuk tersebut menuturkan: “kalau di gereja tempat saya, jika mau mengadakan kegiatan yang membutuhkan dana biasanya menggelar bazaar”.

Terlepas dari berbagai wacana tersebut, aksi solutif harus segera dibicarakan oleh seluruh pemangku kepentingan. Jalan keluar yang lebih permanen harus segera diketemukan. Agar jangan sampai semangat sosial para kader mulia tersebut terhalang oleh biaya operasional. Pembibitan embrio generasi unggul melalui kegiatan Posyandu Balita, telah menuai manfaat nyata bagi bangsa. Tentu tak boleh lunglai apalagi menyerah hanya karena tak ada lagi dana hibah. (mazipiend|kelkidal)