Balada Halte Biru di Jl. Merdeka Utara …

foto strip


Bagai memadamkan api dalam sekam; tak tampak bara hanya tiba-tiba menghitam jadi abu. Mungkin ibarat tersebut pas untuk menggambarkan upaya Pemkot meredam aksi vandalisme di kota ini. Setidaknya barisan foto strip di atas menyiratkan hal itu. Halte di Jl. Merdeka utara yang dipotret pada 18 Mei 2016, terlihat begitu rusuh dengan corat-coret cat yang tak jelas makna. Pada 08 April 2016 halte berwarna biru itu kemudian terlihat baru saja di cat ulang dan tampak bersih kembali. Namun tempat berteduh untuk menunggu angkot itu lagi-lagi menjadi kanvas terbuka dan kembali coreng-moreng ulah tangan jahil dengan maksud yang sulit untuk dipahami.

Gak tahu….geje (gak jelas) pak”, ujar Irene (18 th) seorang pelajar berseragam pramuka yang sedang melintas bersama temannya saat ditanya maksud coretan hitam itu. “Nggih jelas nganggu pak, kan malih (jadi) terlihat rusuh (kotor)”, ujar Pak Amin, pengguna lainnya yang mengaku hanya beristirahat saja di fasilitas publik itu.

Meski menuai keluhan dan kerisauan banyak pihak, tak mudah memang untuk menghentikan ulah tak bertanggungjawab itu. Maklum aksi corat-coret liar tersebut biasanya dilakukan pada tengah malam atau dini hari. Para bomber (istilah pelaku vandalis) sangat lihai mencari tempat dan kesempatan untuk menjalankan aksinya. Tak hanya dinding gedung atau pintu ruko pribadi, fasilitas umumpun tak luput jadi sasaran semprotan pilox mereka. Halte di atas hanyalah bagian kecil saja dari aksi mereka. Di banyak tempat lainnya bahkan terlihat lebih masif dan tak mungkin berbiaya kecil.

Kalau ini bukan (karya) bomber mas. (Karya) bomber biasanya ada maksudnya, gak ngawur koyo ngunu. Iku (karya) arek iseng”, ujar salah seorang mantan bomber asal Embong Brantas yang berhasil ditemui saat ditunjukkan foto di atas. Sang bomber ini mengaku telah berhenti sejak beberapa tahun belakangan lebih karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan.”Ragane cet tambah larang (harga cat makin mahal)”, ujarnya terkekeh.

Beberapa aksi vandalis tersebut oleh beberapa orang memang dianggap “artistik”, namun lebih banyak lainnya tak lebih hanyalah corat-coret ngawur tak bermakna atau tulisan sekenanya, sebagaimana di halte biru yang malang itu. Tak ada nilai estetik yang terbangun baik dari karya para bomber apalagi dari para pengiseng itu . Faktanya, aksi mereka justru berbuah kedongkolan pemilik bangunan dan cibiran masyarakat. Jadi sangat diragukan apabila aksi-aksi tersebut dianggap bagian dari seni (sehingga pelakunya dianggap Seniman/Artist).

Sebagai bagian dari budaya urban mungkin saja, tapi jika dianggap sebagai karya seni agaknya perlu dipikirkan kembali. Karena substansi sesungguhnya berkesenian; selain ekspresi atas segala gejolak jiwa, adalah hadirnya nilai kemaslahatan (baca: kemanfaatan) darinya. Keduanya harus beriringan bak sisi mata koin yang tak mungkin terpisah. So, jikapun vandalis dianggap sebagai sebuah seni, mungkin lebih tepat jika disebut Seni Mengotori. Wallohu’allam. (mazipiend|kelkidal)

artikel terkait:

Mural at Malang city indonesia

Menyemarakkan ICCC 2016, Disperindag Gelar Lomba Mural Berhadiah Jutaan Rupiah

 

 


please, share its by :

facebook twitter