«

»

Mar 09 2017

Krisis Transportasi Umum: Tak Perlu Sumpah Serapah, Relawan Malang Menjawab Aksi Nyata

Aksi Simpatik Relawan Khusus Malang

Aksi simpatik Relawan Khusus transportasi saat hendak mengantarkan siswa-siswi SMPN 6 Malang di halaman sekolah itu pada Rabu (08/03/17) kemarin


Aksi mogok operasi para sopir angkota hari ini masih berlanjut. Memasuki hari ketiga pada Rabu (08/02/2017) kemarin pantauan media ini di beberapa ruas jalan Kota Malang sejak pagi hingga menjelang sore nyaris semua jalur memang tak lagi ada angkota yang beroperasi. Sehari sebelumnya, beberapa angkota yang paginya masih beraktivitas mengangkut penumpang harus dihentikan oleh rekan-rekannya sesama sopir. Ratusan mikrolet biru tersebut kini hanya terlihat diparkir berjajar di beberapa titik lintasan jalurnya, seperti di Jl. Karang Besuki (Jalur AL), Jl. Ngaglik (Jalur GA), dan yang paling mencolok adalah di depan stasiun Kota Baru Malang.

Krisi Transportasi Malang

Kodim, Polres Malang Kota, dan Pemkot Malang berjibaku mengantarkan warga penumpang

Dan seperti sehari sebelumnya, mobil-mobil operasional Polisi, TNI, Satpol PP maupun bus-bus sekolah milik Pemkot Malang kembali harus hilir mudik mengangkut penumpang  di beberapa ruas jalan. Tak adanya angkota yang beroperasi membuat jalanan juga terasa sedikit longgar. Secara umum suasana Kota Malang masih sangat kondusif, meski Selasa sore (07/03/17) ratusan sopir angkota mendatangi kediaman pribadi Abah Anton di Jl. Tlogo Indah 16, Kelurahan Tlogomas Kec. Lowokwaru untuk menyampaikan tuntutannya secara langsung kepada Walikota Malang tersebut.

Diluar ketegangan dan rumor-rumor friksi, yang menarik sejak dua hari ini adalah munculnya relawan-relawan transportasi yang menyisir dan mengantarkan gratis para penumpang yang “keleleran” tersebut. Selain ratusan kendaraan roda dua dan mobil-mobil pribadi, bus-bus khusus milik beberapa perguruan tinggi juga terlihat berseliweran, tentunya dengan senyuman lega para penumpangnya. Terlepas dari pro kontra transportasi online yang berujung pada demo dan mogok sopir angkota yang membuat pengguna jasa transportasi harus gigit jari, kepedulian warga Arema ternyata masih mengental dan sangat membanggakan.

Kepedulian tersebut setidaknya terlihat nyata menjelang sore kemarin, saat anak-anak sekolah dan para pekerja hendak pulang. Para pengguna jasa mikrolet yang dua hari belakangan harus panas dingin dan agak cemas saat waktu pulang tiba, kemarin sore kecemasan tersebut benar-benar mencair. Di beberapa sudut kota terlihat mencolok puluhan relawan ojek gratis maupun mobil-mobil pribadi bertuliskan “Relawan Khusus” yang siap mengantarkan mereka hingga sampai ke rumah masing-masing. Berbeda dengan mobil-mobil penolong plat merah, relawan-relawan tersebut lebih agresif menawarkan “jasa” dan terjun ke titik-titik konsentrasi pelajar.

Relawan Khusus Malang

Mobil-mobil pribadi turun ke jalan menjadi Relawan Khusus, tak rela anak sekolah dan pekerja lebih lama kehilangan waktunya bersama keluarga

Pemandangan yang menggetarkan perasaan tersebut setidaknya terlihat di seputaran parkir Taman Tugu depan SMA 1 dan SMA 4, di depan MTsN dan MIN Jl. Bandung, di depan SMPN 8 (Jl. Bromo), dan bisa jadi di beberapa titik lain yang tak terpantau media ini. Bahkan di SMPN 6 Jl. Kawi, puluhan roda dua dan sebuah mobil Avanza anggota Relawan Khusus tersebut oleh pihak sekolah dipersilahkan untuk masuk dan stanby di area dalam gerbang sekolah itu.

Spontan aja pingin nolong mas, ini juga rame-rame dengan  teman-teman grup.” jawab lugas Dwiki, salah seorang relawan ketika kami korek motivasinya melakukan itu. “Kemarin kabarnya ada siswa SMP ini yang nyape di rumah hingga  jam 7 malam”, timpal relawan yang mengaku dari grup facebook “Kopi Manis Peduli Malang Raya” itu. Ia bersama rekan-rekannya yang stanby di SMPN 6 ini mengaku akan kembali turun lagi esok hari untuk ngojek gratis jika memang masih belum ada mikrolet yang beroperasi.

Enjoy aja sam, gak perlu maido (marah-marah). Sing penting sing sekolah tetep iso sekolah sing kerjo iso kerjo, ” ujar Nanang, relawan lainnya ceplas-ceplos dengan nada Malangan dan memang terlihat tulus tanpa beban.

Warga kota ini harus benar-benar bersyukur, karena masih memiliki banyak sosok-sosok lugas yang siap menyedekahkan dirinya melalui aksi nyata. Sukarela terlibat memasuki masa-masa sulit meski bisa saja ia memilih untuk cuek dan tak mau tahu. Dan yang membuat kota ini makin bangga, mereka melakukannya ikhlas, spontan tanpa marah-marah apalagi sumpah serapah. Karena, memang tak perlu ada yang dipersalahkan ketika mengahadpi masa-masa transisi teknologi seperti saat ini. Kegagapan dan keteteran akan selalu ada. Namun dinamika penyelarasan diri dengan zaman akan terus terjadi. Masyarakat akan selalu mampu beradaptasi.

Mikrolet konvensional berhak untuk menuntut persaingan yang sehat dengan transportasi online yang memang seharusnya juga berijin dan mematuhi standar transportasi umum lainnya. Meski harus disadari, adalah sia-sia untuk menolak dan membendung  teknologi. Tugas pemerintahlah memang yang harus mengaturnya melalui regulasi, namun wewenang strategis itu ada di pusat dan bukan di Pemda.

Kini seraya saling menahan diri, yang harus tetap disadari oleh semua pihak adalah: warga dan masyarakat Malang selalu berhak untuk mendapatkan transportasi umum yang aman, layak, nyaman, terjangkau dan… kemerdekaan untuk menentukan pilihan. (mazipiend|kel.kidal).


Please share by:

facebook twitter