Wow… Pesona Kampung Tridi Tak Terhenti!

Panggung Selfie Kampung Tridi

Pesona Kampung Tridi yang tiada henti. Kali ini dengan Panggung Selfie di atas pohon. Sayang lahan parkir yang belum memadai sangat mengganggu kenyamanan saat pengunjung membludak seperti kemarin (28/03/17)


Magnet Kampung Tridi dalam menyedot animo wisatawan ternyata masih tinggi, lebih-lebih pada hari-hari libur. Pemandangan itulah yang tampak pada liburan Hari Raya Nyepi kemarin (28/03/17). Jalan dan sudut-sudut gang yang memang sempit tak sebanding dengan hilir mudik wisatawan, baik lokal maupun luar derah. Mereka harus rela berhenti sejenak dan bergantian kala blusukan di gang-gang sempit kampung wisata tridi yang berkontur naik turun itu.

Apalagi, keterbatasan lahan membuat area parkir sepeda motor terpaksa harus merengsek masuk hingga jauh ke dalam kampung. Tentu saja hal itu sangat mengganggu dan mengurangi kenyamanan pengunjung. Lahan parkir agaknya menjadi problem paling serius dan mendesak yang dihadapi pengelola kampung wisata di bantaran kali Brantas ini. Lebih-lebih saat pengunjung membludak seperti liburan kemarin.

Namun begitu, dengan peluh di wajah karena terik dan naik turun di wisata bantaran kali Brantas tersebut, siang itu pengunjung tetap terlihat enjoy. Sekelompok bule terlihat sumringah, beberapa menenteng kamera lensa jauh (DSLR) sambil bercengkerama dengan logat yang sulit dimengerti. Sesekali memotret kekanan dan kekiri. Sementara anak-anak lokal arak-arakan berpenampilan zombie sambil bernyanyi dan memukul galon mineral semakin meriuhkan suasana. Diluar itu, pengunjung baru masih terlihat berdatangan melalui pintu masuk yang tepat menghadap pertigaan jalur padat Trunojoyo-Urip Sumoharjo-Gatot Subroto.

Nuansa Kampung Wisata Tridi tetap seperti sebelumnya, menonjolkan warna-warni dan gambar-gambar tematik bernuansa tiga dimensi. Namun kini pesonanya semakin luar biasa. Selain gambar-gambar realis tiga dimensi karya seniman lokal kini jauh lebih banyak, pun nyaris seluruh bangunan yang ada di wilayah yang masuk RW 12 Kel. Ksatrian itu juga telah diguyur warna-warni decofresh.

Sebagaimana Kampung Wisata Jodipan yang ada diseberangnya, dukungan Pemkot Malang dan PT. Indana Paint (Cat Decofresh) melalui CSR-nya membuat dinding-dinding, jalan-jalan maupun atap/genting bangunan-bangunan yang ada di kampung yang dulunya lekat dengan kekumuhan itu kini benar-benar penuh warna. Bahkan, mencerahkan mata pengendara yang kebetulan terjebak kemacetan di jalur padat Buk Gluduk yang tepat berada di atas kampung wisata tersebut.

Inovasi untuk meningkatkan citra sebagai kampung wisata terus diupayakan oleh warga dan pengelola. Bahkan sebuah lantai pohon telah siap memenuhi keinginan pengunjung untuk melihat pesona warna-warni kampung yang bernama Penanggungan Ledok itu dari atas pohon. Tentu pula hasrat berselfie atau berwefie muda-mudi dengan gambar-gambar tridi itu kini semakin terpuaskan.

Apalagi, Pemkot Malang juga telah menganggarkan dan segera membangun jembatan tembus pandang di atas sungai Brantas yang akan menghubungkan 2 kampung wisata yang dipisahkan Sungai Brantas tersebut: Kampung Wisata Tridi di sebelah utara dan Kampung Wisata Jodipan disebelah selatan, yang juga ramai pengunjungnya. Jika jembatan itu sudah jadi… wow!

Namun bengitu, pembenahan-pembenahan penting yang mendesak tentu harus segera dilakukan. Salah satunya: ya masalah lahan parkir tadi!. Karena faktanya, Kampung Tridi telah menjadi destinasi dan membuat ekonomi warganya semakin menggeliat. Selain muncul toko dan warung-warung baru di dalam kampung, aneka souvenir dan oleh-oleh khas juga banyak dibuat dan dijajakan warga lokal. Kaos, gantungan kunci, gelang manik-manik bernuansa kampung tridi mulai marak.

Dan yang terpenting: perubahan sosial yang luar biasa telah terjadi di kampung itu. Kampung yang dulu lekat dengan dunia kelam dan kerap dikiaskan dengan sarang penyamun. Selain lingkungannya yang makin jauh dari kesan kumuh, penghuninya (warga dan generasi pemudanya) juga makin percaya diri menyongsong jaman dan terbuka dengan perubahan .

“Sekarang teman-teman lebih merasa dihargai. Teman-teman tidak lagi dipandang sebelah mata. Dengan hadirnya kampung ini kami merasakan banyak mendapat manfaat. Salah satunya perubahan perilaku dan tanggung jawab. Rasa memiliki kampung ini juga mulai tumbuh, mental kami benar-benar berubah,” ungkap Abdul Konsen (35),  salah satu tokoh pemuda di kampung tersebut sebagaimana dikutip dari malangtimes.com, 25/03/2017.

Menyambut Ultah Ke-103 Kota Malang tahun ini, warga Penanggungan Ledok telah memberikan kado istimewanya untuk kota tercinta: Pesona Kampung Tridi! Hmmm…. Bagaimana menurut anda? (mazipiend|kelkidal).



please, share its by :

facebook twitter