Ramadhan; Bulan Upgrade Kecakapan Spiritual ASN Kec. Klojen


Jum’at (02/06/17) pagi itu di Kec. Klojen tak seperti biasanya. Selepas apel tak ada lagi hingar bingar dan rancaknya musik senam. Tak ada pula gerak lincah instruktur yang sesekali berteriak penuh semangat. Pun, para ASN yang biasanya berlenggak-lenggok mengikuti gerak tubuh sang instruktur tersebut.

Kali ini mereka bergegas menuju ruang pertemuan di lantai 2 gedung yang bersebelahan dengan lapangan tenis milik Pemkot Malang. Dan, halaman kantor kecamatan di Jl. Surabaya itupun kembali lengang. Keriuhan beralih di lantai 2 kantor yang dipimpin Camat Drs. Agus Subali tersebut.

Selama bulan Ramadhan ini, kegiatan senam bersama diganti pengajian seperti ini. Jadi harapannya semuanya tetap datang dan mengikuti kegiatan ini dengan baik“, ujar Drs. A. Mabrur, M.Si membuka acara di hadapan kurang lebih 70-an peserta yang hadir saat itu. Di sebelahnya ustad Ashar Reza telah siap dengan laptopnya yang telah terhubung dengan LCD plus screen-nya.

Laptop dai muda yang memang kerap memanfaatkan TI dalam kegiatan dakwahnya itupun telah menyala. Memancarkan data melalui projector yang ada di depannya, dan terpampanglah teks; “Menghadapi Usia 40 Tahun” yang menjadi judul kajian pertamanya di Kec. Klojen ini.

Mengapa 40 tahun? Karena usia 40 tahun adalah usia kematangan seseorang, baik secara fisik, psikologis maupun emosional. Nabi Muhammadpun diangkat sebagai rasul pada usia 40 tahun“, papar sang ustad yang membuka kajiannya melalui preview sebuah film dokumenter. “Dosa yang dilakukan sebelum usia 40 tahun biasanya karena pengaruh lingkungan. Setelah 40 tahun, itu dosa pilihan“, tambah dai gaul tersebut penuh semangat.

Bu Endang, ASN Kel. Bareng memanfaatkan sesi tanya jawab pada kegiatan tausiah Jumat pagi di Kec. Klojen

Selama Ramadhan ini kegiatan rutin olah tubuh hari Jum’at di Kec. Klojen benar-benar berganti menjadi ajang olah jiwa, olah spiritual. Faktanya kebanyakan yang hadir terlihat cukup antusias mengikuti kegiatan yang pertama kali ini. Tak salah kiranya bila beberapa ASN tersebut berseloroh, menyebut kegiatan ini sebagai Pondok Ramadhan, sebagaimana biasa diadakan di sekolah-sekolah itu.

Saya kasih tips agar kita bersemangat dalam beribadah. Hiduplah seolah anda divonis dokter mengindap kanker stadium empat yang hidupnya tak lagi lama…“, urai ustad Ashar sebelum mengakhiri kajiannya. Audien masih tampak serius menyimak, beberapa bahkan terlihat merenung. Padahal, sang ustad telah mengakhiri ceramahnya…

Sebagaimana sambutan pembuka pak Sekcam di atas, kegiatan hari itu bukanlah yang terakhir. Karena, akan digelar tiap Jum’at pagi selama Ramadhan ini. Harapannya tentu saja peningkatan ketaqwaan dan kesalehan, baik kesalehan individual- vertikal (hablumminalloh) maupun kesalehan sosial-horizontal (hablumminannass).

Di jaman global ini, dimana tak hanya batas geografis dan geopolitis saja yang kian bias, pun garis antara yang hak dan bathil. Antara kebenaran dan kesalahan kadang juga makin buram saja. Di tengah dunia yang “serba tak jelas” itu, ASN memang harus benar-benar membentengi diri dengan kecakapan spiritualnya. Dengan terus meng-upgrade keimanan dan ilmu amalnya, sehingga dapat berujung pada perilaku yang penuh kesalehan, baik kesalehan individual maupun sosial sebagaimana telah disinggung di atas. Semoga saja, barokalloh!(mazipiend|kelkidal)