Walikota Malang Dinobatkan Sebagai Kepala Daerah Inovatif 2015; Mengapa?

walikota inovatif 2015 koran sindo

Walikota Malang (batik hijau, tiga dari kiri) bersama kepala daerah lainnya penerima penghargaan Kepala Daerah Inovative 2015 Koran Sindo (www.koran-sindo.com)


oleh: A.S. Arifin*)

Kota Malang kembali bersukacita karena prestasi. Kali ini melalui prestasi gemilang sang Walikota. Dikutip dari www.koran-sindo.com, edisi 1 Agustus 2015, H. Moch. Anton sang Walikota Malang bersama 6 orang Walikota lainnya, 13 orang Bupati dan 4 orang Gubernur berhasil meraih penghargaan pada Malam Penganugerahan Kepala Daerah Inovative 2015, yang digelar di Hotel Grand Clarion, Jalan AP Pettarani Kota Makassar pada Jum’at (31/07) malam lalu.

Kegiatan penghargaan kepada para Kepala Daerah Inovatif yang digelar oleh Koran Sindo (MNC Group) tersebut memang baru memasuki tahun ke-2, namun perhelatan yang tahun ini mengusung tema “Dari Daerah Untuk Indonesia” itu mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Tak kurang Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi-pun mengirimkan Sekjen-nya untuk mewakili sang menteri yang berhalangan hadir dalam perhelatan tersebut.

Ke-24 orang pemimpin daerah yang terpilih sebagian besar adalah nama-nama yang tak asing dan telah menjadi perbincangan nasional karena keberhasilannya dalam membawa perubahan di wilayah yang dipimpinnya. 

Tengok saja keempat nama gubernur penerima penghargaan dalam ajang tersebut. Masing-masing adalah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Mereka adalah nama-nama yang kerap muncul di media karena keberhasilan kinerjanya. 

Sementara untuk walikota, penerima penghargaan tersebut adalah Walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto, Walikota Malang Muhammad Anton, Walikota Bandung Ridwan Kamil, Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk, Walikota Batu Eddy Rumpoko, Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Walikota Cimahi Atty Suharty. Nama-nama itupun sering muncul di media karena gebrakan-gebrakannya. Begitu juga nama ke-13 Bupati dalam ajang tersebut yang terlalu panjang untuk dibeberkan di sini. Sebagian besar dari mereka sudah sangat familier terutama di kalangan pengamat kebijakan dan otonomi daerah.

Penghargaan ini sebagai sarana apresiasi untuk kepala daerah, agar (kepala daerah) bisa berprestasi lebih baik dan mendorong kepala daerah lain agar memiliki prestasi yang sama baiknya,” ujar CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam seremonial tersebut. “Oleh karena itu peran kepala daerah sangat penting, khususnya bagaimana investasi bisa masuk sehingga prekonomian dapat tumbuh, dan untuk itu diperlukan inovasi-inovasi baru’’, sambung sosok yang dikenal dengan inisial HT itu. 

Terlepas dari itu semua, hal yang menarik untuk kita cermati sebagai warga kota Malang tentu saja adalah masuknya nama Walikota Malang H. Muhammad Anton sebagai salah satu penerima penghargaan bergengsi tersebut. Menarik karena kita sebagai warga kota yang melihat dan merasakan, bisa “ngonceki” sepak terjang sang walikota dalam korelasinya dengan penghargaan tersebut.

 

Mengubah Wajah Kota Tanpa Mengusik APBD

Dalam publikasi tersebut memang tidak disebut secara eksplisit poin-poin keunggulan sang Walikota Malang hingga terpilih dan mendapat penghargaan dalam kontestasi tersebut. Namun sebagaimana diketahui, sejak dilantik sebagai Walikota Malang pada September 2013 yang lalu berbagai terobosan telah dilakukan Abah Anton, sang Walikota berdarah Tionghoa tersebut.

Salah satu terobosan yang menonjol dan mendapat acungan jempol dari berbagai pihak adalah kelihaian Walikota berlatar pengusaha ini dalam menggalang Dana CSR perusahaan Swasta maupun BUMN untuk membiayai penyediaan dan peningkatan kualitas berbagai fasilitas publik yang ada di Kota Tri Bina Cita ini. 

Sang walikota juga cukup cerdik membidik garapan-garapan apa saja yang aspek pembiayaannya layak untuk “diserahkan” ke pihak Swasta, hingga tanpa mengusik APBD. Tengok saja pengadaan 2 bus wisata Macyto (Malang City Tour) yang merupakan bantuan dari PT Nikko Steel. Bus bertingkat ini disediakan bagi wisatawan dan warga Malang yang ingin berkeliling menikmati keindahan kota dari atas bus terbuka. Ini juga langkah cerdik sang Walikota dalam “menjual” kota yang minim wisata alam ini, ditengah gencarnya promosi keindahan wisata alam dari dua saudaranya di Malang Raya (Kota Batu & Kab. Malang).

Selain Bus Wisata ada juga Bus Sekolah. Pengadaan 2 dari 7 Bus Sekolah tersebut merupakan CSR dari Bank Mandiri dan Bank Jatim. Bus yang dioperasikan setiap hari ini disediakan gratis untuk antar-jemput pelajar di kota pendidikan ini. Kebijakan ini juga salah satu terobosan jitu Abah Anton. Selain membantu transportasi pelajar kurang mampu, upaya ini juga untuk mengurangi kemacetan dan menekan kecelakaan bermotor di kalangan pelajar. Meski awalnya ditentang para sopir angkota, toh kebijakan populis ini akhirnya diamini dan dirasakan manfaatnya oleh warga.

Diluar bus-bus tersebut, sang walikota juga memoles taman-taman kota dan meningkatkan rasio RTH. Lagi-lagi upaya ini tanpa melibatkan APBD. Taman kota yang pertama kali dipermak adalah Taman Trunojoyo. Taman lawas peninggalan kolonial Belanda di depan Stasiun Kota Malang itu, disulap menjadi taman keluarga yang cukup nyaman dengan dana CSR dari PT Bentoel. Di taman ini tersedia tempat untuk ibu menyusui, wahana bermain air untuk anak, taman ekpresi, taman baca, dan bahkan tempat pengelolaan pedagang kaki lima yang representatif.