Tari Kolosal Topeng Bapang, Semarakkan Hardiknas di Kota Malang

HARDIKNAS 2016

Seribu penari Topeng Bapang menyemarakkan Peringatan Hardiknas 2016 di depan Balaikota Malang (02/05/16)


Di bawah kendali Abah Anton-Sutiaji, Pemkot Malang semakin getol saja membumikan kembali Topeng Malangan. Hal itu terlihat dalam nuansa warna-warni peringatan Hari Jadi Kota Malang ke-102 di bulan April 2016 ini. Kearifan lokal budaya khas Malang itu bahkan sempat ditampilkan dalam rupa tarian kolosal pada perhelatan ICCC 2016, dan dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Tari Topeng Terbanyak dengan 1.375 penari.

Pada awal Mei ini, tarian topeng kolosal tersebut kembali ditampilkan untuk menyemarakkan peringatan HarI Pendidikan Nasional 2016 di Kota Pendidikan ini. Bertempat di depan Balaikota Malang dan ruas jalan Tugu Selatan, seribuan siswa-siswi SD/MI tersebut menari dengan serempak. Gerakan mereka lugas dan gagah. Dengan busana berwarna merah menyala dan mengenakan topeng Klono berhidung panjang, lengkap dengan segala assesoriesnya.

Sekitar tujuh menit para bocah itu bergerak lincah menggambarkan pertempuran seru antara Prabu Klono Sewandono dan Panji Asmorobangun. Pertarungan klasik antara angkara murka dan kebajikan, antara pihak hitam dan putih. Tema tarian yang sebenarnya umum dan biasa saja. Namun karakter gerakan dan gaya busana mereka yang khas, benar-benar mampu mewakili karakter Malangan yang kuat; tegas, bersemangat dan blak-blakan.

Sayangnya, kondisi tempat yang kurang mendukung dan antusiasme penonton yang kurang terakomodir, membuat tontonan tersebut jadi kurang greget. Para penari bocah tersebut terlihat kurang nyaman bergerak karena jarak mereka terlalu berdekatan.

“Memang lebih enak (nyaman) di stadion (Gajayana) sih, tapi gak apa apa… seneng aja”, ujar Dewi salah satu penari sesaat setelah acara usai. Meski serasa berhimpitan siswi kelas IV SD asal Gadang itu merasa senang dengan tarian topeng ini.

Terlepas dari semua itu, peringatan Hardiknas di Kota Malang tahun ini memang terasa lebih bergairah. Dan, yang lebih penting adalah bahwa embrio-embrio generasi Malang itu memiliki kesadaran baru untuk mulai mencintai kearifan budaya lokal itu. Kearifan yang akan mematri jiwa dan karakter mereka menjadi lebih kuat dan berjaya, sebagaimana refleksi tarian Topeng Bapang berjudul Joyo Sentiko itu. Karakter inilah yang akan menyalakan pelita, dan terangkan cita-cita, sebagaimana tema peringatan Hardiknas kali ini. (mazipiend|kelkidal