Awas! Hujan Deras, Longsor di DAS Brantas Mengancam

longsor di kali brantas

Bagian tebing di tepi Sungai Brantas yang longsor pada Kamis (24/11/2016), meruntuhkan bagian belakang salahsatu rumah warga


Hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari terakhir benar-benar menjadi ancaman serius bagi warga yang bermukim di dekat tebing DAS Brantas. Kejadian tanah longsor akibat derasnya aliran hujan makin kerap terjadi. Setelah pekan lalu (16/11/2016) longsor sempat terjadi di “belik” Sungai Brantas di RW. 04 dan menimpa Agus Salim (44), hingga yang bersangkutan harus dirawat di UGD RSSA. Baca juga:

DAS Brantas Longsor Lagi Nyaris Merengut Nyawa

Kamis (24/11) sore kemarin peristiwa longsor kembali terjadi di wilayah ini. Salahsatu bagian tebing di bibir sungai Brantas tepatnya yang berada di wilayah RW. 03 Kelurahan Kidul Dalem ambrol dan tanahnya longsor.

“Tak ada korban jiwa pak”, ujar Muliadi, salahsatu petugas BPBD Kota Malang yang turun ke lokasi. Meski tak sampai menimbulkan korban jiwa peristiwa naas tersebut tetap menimbulkan kepanikan dan kecemasan luar biasa.

longsor di kidul dalem

Tanah di belakang rumah Ny. Sabitah yang longsor dan hampir menyeret bagian belakang rumah warga RW. 03 tersebut

Ibu Sabitah, warga Jl. Aris Munandar IV/c RT. 06/ RW. 03 Kel. Kidul Dalem Kec. Klojen Kota Malang, sempat panik dan ketakutan. Pasalnya, tebing yang longsor tersebut adalah halaman bagian belakang rumahnya. Akibatnya pintu belakang rumahnya kini langsung berhadapan dengan bibir jurang sungai Brantas, karena tak ada lagi tanah yang tersisa. Bahkan beberapa perkakasnya ikut terseret arus longsor.

Hujan deras diliputi mendung tebal sejak sekitar pukul 12.30 wib kemarin diduga menyebabkan drainase yang ada tak mampu menampung air hujan. Luberan air permukaan dengan arus yang cukup deras tersebut mengarah ke sungai Brantas yang lebih landai dan melalui tebing-tebing sungai yang curam. Salahsatunya di lokasi titik yang longsor tersebut.

Menurut penuturan Lurah Kidul Dalem yang langsung turun ke lokasi beberapa saat pasca kejadian, ketinggian tebing dari permukaan sungai sekitar 12-13 meter, dan hanya sekitar separohnya saja atau 6-7 meter yang diperkuat dengan gronjong. Sementara sisanya di bagian atas hanya mengandalkan pohon-pohon perdu yang akarnya tak terlalu kuat mencengkeram tanah “perengan” itu. Akibatnya begitu di terjang derasnya arus permukaan, longsorpun tak terelakkan.

Sudah kita laporkan ke pihak-pihak terkait”, ujar Pak Johan. “Mohon warga pemukiman disekitar Sungai Brantas tetap waspada, terutama saat hujan deras dan cuaca memburuk belakangan ini”, sambung Lurah ramah tersebut.

Tak dipungkiri, tuntutan kehidupan kadang mengakibatkan warga mengekspoitasi sedemikian rupa ekosistem Sungai Brantas. Namun, tentu tak harus membuatnya menjadi abai untuk peduli dan ramah kepadanya. Peduli untuk tidak makin mempersempit luasannya akibat pemukiman, atau lebih ramah untuk tidak membuang sampah di wajah Sungai Brantas yang makin tua.

Kepedulian dan keramahan kita kepada alam, tak akan memantik kemarahannya. Dan tentu akan meredam kemarahan Allah, Sang Pencipta juga. Semoga! (mazipiend|kelkidal)


please, share its by :

facebook twitter